Minggu, 06 Januari 2013

dear angga

Dear Angga …

“biarkan badan mu diam, biar aku yang bergerak. tak usah panik kan ada aku disini” suara yang nampaknya sedikit lebih berat dari biasanya, mungkin karena Angga belum tidur sejak dini hari tadi. terlihat dari raut wajahnya sangat lelah sekali, tapi lagi lagi dia menjaga ku terus menerus. “tidurlah… bahkan aku jauh lebih sakit ketika melihat mu tak berdaya” bahkan kata kata ku tak ada yang di dengar. hanya sibuk menyiapkan segala sesuatu yang aku perlukan itu membuat ku jengkel, dalam hati aku berujar “andai kamu bisa sedikit lebih tenang dan sabar pasti aku akan pulih”. dia Angga, seseorang yang sudah menemani hari hari ku lebih dari 3 tahun lamanya. Menjadi tangan sekaligus kaki ku yang tak mampu lagi merespon kehendak ku. Seperti telah di utus tuhan untuk menyembuhkan seseorang yang sedang terbaring lemah, bahkan bisa membangkitkan lagi semangat Lea untuk hidup.
“Pagi ini cukup cerah apakah kamu ingin keluar menghirup udara bebas yang sekarang sudah menjadi hal langka ?” ucap Angga sambil mendorong kursi roda ku mengarah ke teras rumah. “beberapa hari ini sepertinya aku akan lebih sering merindukan mu, aku ingin menyelesaikan tugas ku dulu agar nanti aku bisa lebih fokus menjaga mu lea.” aku mengerti sekali kesibukan angga, tapi aku tak ingin menyusahkan dia karena kondisi ku kini, aku pun mengangguk kecil melempar senyum simpul tanda aku mengizinkan dia pergi.
Jendela kamarku kini tertutup rapat, padahal matahari sudah menyongsong mengarah ke barat. sejak terakhir ku bertemu angga hingga kini sudah hampir 2 bulan aku belum mendapatkan kabarnya lagi. “Lea, apa kamu sudah lebih baik sekarang ?” ucap ibu yang menyambangi ku memberikan sepotong roti dan susu putih hangat untuk mengisi perut ku pagi ini. “baik-baik saja bu, kan aku sudah bilang aku sama sekali tidak merasa sakit” ibu terdiam sejenak lalu memegang tangan ku erat,”ibu tau kamu tersiksa, hidup dengan satu ginjal yang kini sudah mulai merespon negatif ke tubuhmu, tapi ibu tau ada hal yang lebih membuat mu tersiksa…Angga, apakah kalian sudah? ah sudahlah Lea, mungkin dia sedang sibuk sibuknya” ibu melepaskan genggamannya lalu pergi untuk sejenak membiarkan aku beristirahat.
 
berhari-hari sudah semenjak 2 bulan tak ada kabar apapun tentang Angga, aku berfikir apakah dia lelah selama ini menjaga ku merawat ku dan lagi-lagi aku mulai merasakan hampa, merasakan ada yang lebih sakit, jauh lebih sakit daripada mencuci darah sekalipun. ketika kemudian ada sebuah keajaiban yang diberikan tuhan saat ada sebuah rumah sakit yang mempunyai ginjal dan cocok untuk ku, maklum, dengan kondisi ku yang sekarang, sudah tidak memungkinkan lagi bertahan dan mengandalkan benda yang nampaknya sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik. aku berfikir dan kemudian menerima tawaran operasi untuk menggantikan ginjal yang baru. “kamu bilang, saat kamu sakit, kesakitan, jauh amat lebih sakit dari biasanya, cukup pikirkan aku, makan aku ada disampingmu selalu, tapi kini… ketika ku mulai mendapat harapan cerah hal lebih sakit pun datang , karena aku kehilangan sosok mu di hatiku” ucap kecil bibir ku saat menatap bingkai foto Angga yang masih menempel erat didinding kamar ku.

“bu, ini semua akan kita usahakan berjalan sesuai rencana dan prosedur yang telah di sepakati. yang perlu ibu lakukan adalah berdoa, berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar dan kami juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk memulihkan kondisi Lea” ibu hanya mengangguk lalu kemudian sedikit mengeluarkan air mata, karena tidak mampu membayangkan kondisi putri semata wayangnya lemah tak berdaya. Sejak kecil memang fisik nya sudah lemah, apalagi semenjak umur 5 tahun Lea harus bertahan hidup hanya dengan 1 ginjal yang ia miliki, kemauannya tinggi bahkan lebih tinggi lagi saat Angga mulai mengisi hari hari nya sebagai kekasihnya, sosok lelaki yang tak pernah bisa dibayangkan bisa sekuat dan sesabar merawat tubuh kecil Lea. Angga paham benar bagimana susahnya memenuhi kebutuhan Lea, bahkan setiap hari Angga menyisihkan sebagian waktu nya hanya untuk menjaga Lea. Lea memang anak yang tertutup, pergaulannya terlalu sempit, semenjak kecil hanya sedikit orang yang dia kenal. hanya teman kecilnya Intan yang kini sudah tinggal jauh di Surakarta tapi masih sering menelepon dan menanyakan kabarnya Lea. Angga sendiri mengenal Lea semenjak bertemu di rumah sakit, kejadian yang bisa dibilang tidak diduga, perkenalan yang singkat di sebuah lift hingga sering bertemu kemudian mengisi hari hari nya dan sekarang …..

“entah sedang apa Angga sekarang ya bu?” ucap ku di perjalanan pulang setelah masa masa sulit kulewati, sekarang aku bernafas terasa lebih ringan, semenjak kehadiran ginjal baru yang tak lagi menyiksa ku, keajaiban yang sampai sekarang tak bisa aku pikirkan, bisa menemukan ginjal baru dan cocok dengan ku. *ggrr..grgr..ggrrr* suara getar telepon seluler ku memecah khayalan yang melayang layang.
“halo, Le .. gue denger denger lo udah dapet donor ginjal yaa ? ah gue bersyukur banget bisa pas, mungkin karena hati kali yaaa .. eh ups, leaa gue kangen sama lo sungguh” suara melengking yang sudah tak asing lagi ku dengar,
“amin tan, ini tuh mukzizat dari Allah, disaat tubuh gue bilang ingin nyerah, disitu Allah ngirim malaikat yang bawa ginjal nya ke gue, tan lo ke bandung lah sekali sekali main ke rumah, gue bosen liat foto lo doang..” ketus ku lembut
“iya nanti libur semester intan kesana yaa, Le kabarnya Angga gimana ? udah wisuda kah diaa ?” lagi lagi ucapan Intan membuatku sakit sesakit sakitnya.
“Angga pergi tan, pergi tanpa sebab, pergi tanpa jejak, pergi tanpa satu alasan yang ga pernah Lea dapet…” tak sadar jika air mulai bergelimangan di mata ku.
“Intan ga salah denger kan le? ko bisa ? bukannya kalian udah samasama 3tahun lamanya ya ? eh yauda nanti Intan sambung lagi ya teleponnya, Insya allah minggu depan intan ke bandung ya Le, see you Leaa…….. tutututtututut,” tak sempat ku menjawab salam nya
kini kondisi ku bisa dibilang pulih, tak ada lagi yang bisa membuatku terbaring lemah, kecuali hati ku, hatiku yang masih belum bisa menerima kenyataan tak ada Angga penyemangat ku, tatapan sayu namun lembut dipandang, tangan yang hangat, pundak yang bidang sering menjadi sasaran untuk ku bersandar disaat aku mulai lelah karena penyakit ku. tapi kini Angga biarkan ku sendiri yang mengatasinya, apakah ini bisa disebut tidak adil ?
 
~dear angga
karena cahaya mu, aku bangkit
berkat tenaga mu, aku terbantu
karena cintamu,aku bahagia
tapi cintamu juga yang buat ku tak sanggup terima kamu pergi .

aku hanya bisa mengibaratkan semua ini seperti hujan, awalnya hujan badai datang, kemudian hujan sedang merubah badai menjadi air, dan nanti ketika air itu habis dengan sendirinya hujan kan mereda, kemudian pelangi pun muncul bersinar, warna warni menyambut mentari yang kembali terbit.
diawal aku tak bisa menerima jika Angga pergi tanpa alasan, kini aku mencoba mengerti keadaan saat dia tak ada meski kadang sering merasa kehilangan, tapi lama kelamaan aku pasti bisa menerima mengapa Angga menghilang tanpa jejak. dan pelangi sebagai harapan baru ku untuk melangkah .
seminggu kemudian
*tok…tok…tok…*
“assalamuallaikum, Leaa”
aku berlari kecil menuju pintu rumah, membuka kunci pintu, lalu tak lama aku histeris berteriak kegirangan “intaaannn, sumpah lea kangen yu masuk dulu pasti cape banget kan perjalanan jauh dari Surakarta” Intan melemas, seperti ada cerita yang ingin disampaikan, tapi sepertinya bukan kabar baik.
“leaa, intan mau ceritaa, tapi plis lea jangan sedih dulu lea harus sabar pokonya lea ga boleh drop ya…” aku tertegun mendengar ucapan intan, lalu mengiyakan ucapan intan.
“yauda, intan sabar intan ceritain pelan pelan ke Lea ya lea janji deh” aku berusaha agar intan bisa lebih tenang sedikit ..
“le, intan tau Angga dimana, tapi …..”suara intan melemah
“seriusan tan ? lea kangen banget mau ketemu Angga, pasti dia seneng banget liat lea udah pulih dan bisa berktifitas normal, jadi Angga ga bakalan kesusahan lagi jagain dan rawat lea” aku merasa lega, tapi entah mengapa rasanya di dada ku ada yang menusuk, sesak sekali, lebih sesak daripada tertindih 20 orang sekaligus, aku merasa ada yang tak enak di hati ku.
“lea, sebenernya yang mendonor ginjal itu Angga… intan sebenarnya udah tau kalau Angga berencana mau mendonorkan satu ginjalnya buat lea, karena dia ga tega liat lea sakit, dia ngerasa lebih sakit setiap kali liat lea kesakitan, mangkanya dia mutusin untuk sama sama punya satu ginjal kaya lea. pas dia pamit pergi ke lea sebenernya dia lagi usaha cari cari informasi tentang donor ginjal, dan prosedurnya, ternyata ga disangka Angga udah operasi pengangkatan ginjal, tapi….. tapi … tubuhnya Angga ga merespon baik saat pemulihan, tubuh dia ga bisa bertahan lama dengan satu ginjal aja. sekarang angga di rumah sakit kritis le , ada infeksi dibagian luka bekas operasi pengangkatan ginjalnya..” sedikit menghela nafas intan melanjutkan ceritanya “jadi sebenenya Angga itu senior intan di kampus , dan intan tau cerita ini darj sahabat nya angga langsung kebetulan intan kenal” intan menggenggam tangan ku erat meyakinkan ku bahwa ceritanya adalah kenyataan, sungguh aku tak menyangka selama ini Angga menghilang hanya untuk memberikan satu organ tubuhnya diberikan padaku, lalu membiarkan dia menderita kesakitan karena tak bisa menyesuaikan diri nya dengan keadaan organ tubuh yang tidak lagi sempurna ? aku bahagia saat angga menahan sakit ? saat ini ku tak bisa menggambarkan apa yang aku rasakan. menjadi orang yang secara tidak langsung menyebabkan angga seperti ini .

aku, intan dan ibu kini sedang diperjalanan menuju rumah sakit tempat Angga terbaring lemah, saat ini aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan ke Angga, berterimakasih kah ? atau meminta maaf ? rasanya aku ingin sekali masuk ruang operasi sekali lagi, meminta ginjal ini kembali di donor kan ke Angga, karn sungguh aku tak mampu melihat kondisi angga sekarang. mengapa dia begitu rela membiarkan tubuhnya lemah tak berdaya, membiarkan pisau sayat mengambil sebelah ginjalnya lalu rela diberikan pada ku ? Angga, aku menyesal, itu lah yang ada dibenak ku saat ini.
“Angga andai kamu melihat ku sekarang, pasti kamu tersenyum melihat ku pulih, karena ginjalmu. tapi Angga, jika tuhan izinkan aku mengembalikan yang bukan hak ku, rasanya ingin sekali aku kembalikan lagi ginjal ini, aku tak butuh sehat, yang kubutuh melihat mu setiap hari, merasakan perhatian dan kasih sayang mu seperti dulu. Aku tak perduli sesakit apapun aku, toh selama ini aku tak merasakannya karena ada kamu Angga….”ucapku yang terus menderu melawan air mata yang mengalir menggenggam tangan angga yang dingin,melihat tubuh bidang angga kini terbaring lemah, dan semua ini dia lakukan hanya untuk ku .
perlahan, namun pasti angga merespon genggaman tangan lea kemudian perlahan membuka sedikit kelopak matanya , menatap disekiling ruangan steril buram yang pertama dilihat, mencoba memejamkan mata lalu kemudian membukanya lagi perlahan, kemudian wajah cantik mungil tampak dihadapanya, senyum pun terurai dari muka pucat nya dan berkata “jangan menangis sayang, Angga ga mau liat lea nangis, kalau lea menyesal nerima pemberian angga, angga sedih.. berati ini semua sia-sia” mencoba mengambil nafas panjang dengan terbata bata angga kembali melanjutkan ucapannya “angga ga bisa ngebiarin la lebih lama menahan sakit, dari umur 5 tahun lea merasa sakit yang ga ada akhirnya, angga bukan orang jahat yang tega ngeliat orang yang paling angga sayang menderita sendirian. angga mau ngeringanin beban lea, ini yang bisa angga lakuin untuk lea, sekarang lea bisa ngerasain cinta angga buat lea semakin kuat kan ? itu karena di tubuh lea udah ada organ tubuh angga yang angga utus buat jagain lea selamanya. jadi lea ga perlu berterimakasih apa lagi meminta maaf untuk semuanya, angga ikhlas dan angga bahagia”itu ucap angga yang perlahan didengar seperti isyarat.
aku hanya bisa menangis memeluk angga, mengucap syukur, karena dipertemukan dengan malaikat tuhan yang berwujud angga.

sekarang lea bukan wanita lemah, dan angga sekarang setiap hari lebih indah dari biasanya, kenapa?
karena lea yang menjaga merawat angga untuk memenuhi dan menggantikan tubuh angga yang masih terbaring lemah . cinta yang membuat mereka mengerti bersatu menutupi apa yang menjadi kekurangan pasangannya , dan menggantikan apa yang tak dimiliki pasangannya .


by : yuni tika ratujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar